OBAMA DAN STIGMA ISLAM


 

Oleh : Uwes Fatoni


 Siapa yang tidak mengenal Barrack Obama? Tokoh fenomenal di jagat perpolitikan Amerika itu sedang naik daun sebagai kandidat calon presiden partai Demokrat. Di tengah kepopulerannya datang serangan beruntun dari rivalnya, Hillary Clinton, yaitu kampanye negatif beramunisi Islam. Beruntung dengan cerdas Obama mampu menangkis berbagai serangan tersebut.


Dalam referensi benak masyarakat AS, termasuk Obama, Islam telah menjadi stigma  dan biang teror di balik peristiwa 9/11. Wajar bila Obama tidak mau citranya hancur lewat isu stigma Islam tersebut.


Sekalipun begitu, melihat latar belakang kehidupan Obama tidak bisa disangkal akan ditemukan benang merah dirinya dengan dunia Islam. Ayahnya Barack Hussein Obama Senior keturunan Kenya Afrika beragama Islam. Ayah tirinya Lolo Soetoro juga muslim asal Jawa Timur. Obama juga pernah tinggal di Indonesia, negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, selama 3,5 tahun.


Latar kehidupan yang multikultural tersebut di satu sisi merupakan kelebihan yang tidak dimiliki kandidat lain. Tapi, di sisi lain hal itu menjadi alat penghancur citra Obama sebagai senator muda harapan baru AS.


Counter Kampanye Negatif


Ada empat peristiwa penting Citra negatif Islam dikaitkan dengan Obama sebagai kampanye negatif penghancuran citra dirinya. Pertama, Desember 2007, menyebar email yang isinya menuduh Obama seorang Muslim dan ”teroris tersamar” yang ingin menghancurkan AS. Akar identitasnya yang muslim dengan nama tengah "Husein"  menjadi alasan utama tuduhan tersebut. Dalam email tersebut juga disebutkan, Obama disumpah dengan Alquran sebagai Senat AS dari Illinois.


Tuduhan ini langsung dibantahnya dengan keras. Ia memang memiliki ayah seorang muslim tapi menurutnya telah ateis. Sejak kecil ia telah beragama Kristen dan selama lebih dari 20 tahun tercatat sebagai anggota the United Church of Christ sebuah gereja Protestan. Menurutnya bagaimana mungkin ia akan disumpah dengan Alquran, bila ia seorang Kristiani.


Kedua, Januari 2008, Obama diisukan pernah menuntut ilmu di madrasah tatkala tinggal di Indonesia. Isu ini bermula dari artikel Insight Magazine, sebuah media milik grup The Washington Times yang menyampaikan laporan dari tim sukses Hillary Clinton. Tidak pelak isu ini membuat ramai publik AS. Bagi mereka istilah 'madrasah'  berarti sebuah sekolah kaum muslim militan yang menghasilkan ekstremis dan teroris. Bila hal itu benar berarti  Obama adalah kader teroris.


Isu ini pun kembali disangkal oleh Obama. Menurutnya ketika tinggal di Indonesia ia tidak pernah belajar di Madrasah. Justru ketika pertama kali datang ke Indonesia ia belajar di sekolah Kristen, SD Fransiscus Asisi dan kemudian karena keterbatasan biaya pindah ke SD umum yaitu SDN 01 Menteng, Jakarta Pusat. SD tersebut bukan madrasah dan juga tidak mengajarkan Islam garis keras.


Ketiga, 25 Februari 2008 tersebar foto Obama mengenakan pakaian tradisional Kenya, yaitu pakaian muslim dengan jubah putih dan sorban bersandingan dengan ulama Somalia Sheikh Mahmed Hassan. Foto yang dipublikasikan oleh Situs The Drudge Report ini kembali berupaya memperkuat citra Obama sebagai seorang muslim Afrika.


Hal itu tentu saja membuat berang Obama dan tim suksesnya. Menurutnya foto tersebut adalah hasil kunjungannya ke Somalia pada 27 Agustus 2006. Dan yang memakai pakaian tradisional itu bukan hanya dirinya, tapi juga beberapa senator lainnya. Pakaian tersebut dikenakan kepadanya sebagai bentuk penghargaan warga Somalia atas keberhasilan dirinya sebagai putra daerah tersebut di negeri Paman Sam. Bukan bentuk konversi dirinya menjadi muslim.


Keempat, Maret 2008 datang dukungan dari Louis Farakhan seorang tokoh black muslim, pimpinan Nation of Islam. Namun Obama menolak dukungan tersebut dengan mentah-mentah. Menurutnya ia tidak membutuhkan dukungan dan juga tidak memiliki kaitan apapun dengan tokoh yang dikenal memiliki pemikiran anti-semit dan anti Yahudi tersebut. Sebaliknya, Obama semakin merapatkan dirinya pada komunitas Yahudi.


Dalam konteks komunikasi politik, sanggahan dan penolakan yang dilakukan oleh Obama merupakan strategi politik yang jitu. Dengan cara penegasian seperti itu Obama berupaya menyingkirkan keraguan masyarakat AS yang phobia kepada Islam terhadap dirinya. Sebagai seorang komunikator politik yang handal, Obama tidak mau terjerat dalam opini publik yang merugikan dan akan menggagalkan usahanya menuju gedung putih.


Hal ini sejalan dengan pemikiran Nimmo (1993) bahwa komunikator politik harus mampu memainkan peranan pembentuk opini publik. Bagaimanapun opini publik merupakan suara rakyat (voice of people) yang menyuarakan pendapat warga negara dan akan mempengaruhi titik akhir proses politik yaitu pemilihan presiden nanti.


Namun ada beberapa hal yang patut dikritisi dari counter komunikasi politik Obama di atas. Di satu segi Obama memang berhasil meyakinkan masyarakat AS sebagai pemilih potensialnya bahwa dirinya bukan muslim. Tapi di segi lain, Obama telah menjauhkan dirinya dengan latar belakang kehidupannya dan komunitas muslim. Penyangkalannya dengan menyatakan tidak pernah beragama Islam dan penolakannya atas dukungan komunitas Islam bisa menyakitkan umat Islam. Ini juga sekaligus bisa mencitrakan bahwa Obama tidak ada bedanya dengan masyarakat AS lainnya yang Islam-phobia.


Bukankah dalam kampanyenya beberapa waktu yang lalu ia pernah mengungkapkan upaya dialog antara Barat dan Islam. Dalam sebuah wawancara dengan majalah Paris Match (13/1) ia bahkan mengungkapkan keinginan untuk menjembatani kesalahpahaman yang besar antara Muslim dan Barat. Tidak tanggung-tanggung ia berencana akan mengorganisir pertemuan umat Muslim sedunia dan Barat. Hal itu menurutnya dilakukan dalam upaya "mau mendengarkan berbagai masalah mereka (umat Islam)".


Sayang gagasan cemerlangnya itu terhempas oleh opini yang dihembuskan oleh rivalnya dan diamini oleh masyarakat AS. Bisa jadi ke depannya Obama akan terus terbawa opini publik tersebut, bukan sebaliknya berupaya membentuk opini publik.


Harapan Baru


Perjalanan Obama menuju kursi presiden masih cukup panjang. Bila saja ia berhasil mengalahkan Hillary Clinton dalam mengambil kursi kandidat presiden dari partai Demokrat, dalam kampanye pemilu nanti ia tetap akan dihadapi oleh isu yang sama. Siapkah Obama membuat counter komunikasi politik yang lebih cerdas. Counter isu yang mampu merangkul semua komponen masyarakat AS termasuk komunitas muslim.


Bila selama ini Obama selalu meneriakkan "Si se puede, si se puede", dalam bahasa Spanyol yang berarti "kita bisa", maka stigma Islam yang melekat dalam dirinya harus berhasil ia luruskan tanpa menjauh dari komunitas Islam. Seandainya hal itu berhasil ia lakukan kita baru bisa berharap dialog Barat dan Islam akan terwujud kelak ketika Obama menjadi orang nomor satu di AS.


 


Penulis, Dosen  Komunikasi Politik Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.

© all rights reserved
Modified by kanguwes