Kepengurusan Masjid Baitul Mu’min Periode 2026-2029 baru saja dilantik hari Jum'at (22 Mei 2026). Saya diamanahi oleh jamaah masjid untuk menjadi ketua. Memulai kepengurusan ini banyak hal yang harus dilakukan. Namun yang pertama disiapkan adalah visi misi kepengurusan, tagline dan program besar.
Mengamati perkembangan masjid yang sudah berdiri 28 tahun ini (berdiri sejak 1998) banyak hal yang sudah berubah terutama masjid yang semakin luas, namun belum seimbang dengan peningkatan program dan partisipasi jamaahnya. Untuk itu dibuatkan visi dengan tagline "Tumbuh Masjidnya, Berdaya Jamaahnya".
Visi ini menunjukkan bahwa Masjid Baitul Mu'min harus terus berkembang seiring perkembangan zaman, namun fokus pengembangannya tetap jamaah oriented, berorientasi kepada jamaah sebagai pengguna layanan masjid. Tumbuh masjidnya menandakan bahwa masjid Baitul Mu'min terus berkembang. Sarana dan Prasarana semakin dilengkapi, pelayanan semakin ditingkatkan dan penggunaan teknologi semakin digalakkan untuk menjaring aspirasi juga mengekspose kemajuan dan pertumbuhan masjid. Selain itu juga program pembebasan lahan wakaf perlu terus dipikirkan agar segera bisa diselesaikan.
"Berdaya masjidnya" menandakan bahwa jamaah sebagai pengguna layanan masjid harus terus diberdayakan, baik secara spiritual dengan berbagai kegiatan ibadah dan dakwah, juga dengan berbagai kegiatan ekonomi, sosial dan lingkungan hidup. Keberadaan lembaga masjid menjadi pendukung kehidupan beribadah berhubungan dengan Allah (hablum minallah) jamaah.
Salah satu program besar pengurus masjid Baitul Mu’min saat ini adalah Baitul Mu'min Mepeling (Mesjid Peduli Lingkungan). Lingkungan di sini bisa dimaknai sebagai hubungan sesama manusia (hablum minannas) dan hubungan dengan alam (hablum minal 'alam). Masjid bisa membuat campaign berkaitan dengan isu-isu lingkungan yang dampak berikutnya bisa disosialisasikan sehingga branding masjid bisa dikenali oleh masyarakat lebih luas.
Banyak ayat yang bisa menjadi lanasan teologi program peduli linkungan ini. Ayat Al-Quran surat Ar-Rum: 41 mengungkapkan tentang kerusakan yang terjadi di muka bumi itu disebabkan oleh ulah manusia. Kita sebagai manusia berdasarkan ayat ini dituntut untuk jangan merusak alam. mafhum mukhalafahnya Kita harus menjaga alam.
Ayat lain berkaitan dengan lingkungan juga pengolahan sampah dengan mengolah sampah agar tidak terbuang dengan percuma. Mengutip Surat
Ali-Imran: 191 tentang kebermanfaatan alam semesta yang menyatakan bahwa Allah tidak menciptakan makhluk di
alam semesta ini dengan ini sia-sia. Untuk itu sampah harus dikelola
dengan baik termasuk memalui metode magot BSF.
“Sampah yang kita
anggap sia-sia ternyata memiliki keberkahan jika dikelola dengan baik.
Melalui metode magot BSF ini, kita tidak hanya mengurangi beban sampah
di lingkungan, tetapi juga mengubah mindset bahwa sampah organik dapat
diolah menjadi pakan ternak yang bernilai ekonomi tinggi,” ujar Ustaz
Uwes.
Ia menambahkan, gerakan peduli lingkungan ini sesuai dengan
tagline masjid, yaitu Baitul Mu'min Mepeling yaitu Mesjid Peduli
Lingkungan. Jamaah menurut Ustaz Uwes harus mulai memiliki kebiasaan
kecil mengelola sampah di rumah masing-masing. Dapur keluarga,
menurutnya, bisa menjadi titik awal perubahan apabila setiap rumah
tangga mulai memilah dan mengolah sampah organik secara mandiri.
Ketua
DKM ini lebih lanjut menjelaskan tentang perilaku positif yang harus
dimiliki oleh umat Islam dengan meniru perilaku para ahli sufi.
Menurutnya para ulama tasawuf memperkenalkan konsep Takhalli, Tahalli
dan Tajalli. Takhalli itu mengosongkan diri dari sifat tercela, tahalli
mengisi diri dengan sifat terpuji dan Tajalli penampakan cahaya sinar
ilahi dalam hatinya.
"Dengan 3 konsep tasawuf ini kita bisa
mengimplementasikannya dalam perilaku menjaga lingkungan. Takhalli
artinya kita singkirkan kebiasaan membuang sampah tanpa memilah. Tahalli
kita mulai membiasakan diri memilah sampah paling tidak menjadi
kelompok sampah organik, anorganik dan residu. Tajalli akan terwujud
yaitu nampaknya nilai keindahan dalam lingkungan yaitu bersih dari
sampah. Saya menyebut konsep Tajalli ini dengan kepanjangan kiTa JAga
LIngkungan," ungkapnya.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa ITB
yang terdiri dari Panji, Timoti, dan kawan-kawan memberikan penjelasan
kepada jamaah tentang apa itu magot BSF, bagaimana siklus hidupnya,
kebiasaan makannya, manfaatnya, serta cara merawatnya agar dapat
digunakan untuk mengurai sampah organik rumah tangga.
Panji
menjelaskan bahwa magot BSF merupakan larva dari lalat Black Soldier
Fly. Berbeda dengan lalat rumah yang sering dianggap sebagai pembawa
penyakit, BSF memiliki karakteristik yang berbeda. Lalat BSF dewasa
tidak tertarik pada makanan manusia seperti lalat rumah, dan fase
larvanya justru sangat bermanfaat karena mampu mengurai sampah organik
dengan cepat.
Dalam pemaparan materi, jamaah MTBM dikenalkan pada
siklus hidup BSF, mulai dari telur, larva, prepupa, pupa, hingga
menjadi lalat dewasa. Pada fase larva inilah magot memiliki peran paling
besar dalam mengolah sampah organik. Larva BSF memakan bahan organik
yang membusuk, seperti sisa sayur, buah, nasi, dan sisa makanan lainnya.
Setelah tumbuh, magot dapat dipanen dan dimanfaatkan sebagai pakan
ternak, terutama untuk unggas dan ikan.
Mahasiswa juga
menjelaskan bahwa kebiasaan makan magot menjadi alasan mengapa larva BSF
efektif digunakan dalam pengolahan sampah rumah tangga. Magot mampu
mengonsumsi sampah organik dalam jumlah besar sesuai kapasitas medianya.
Karena itu, pengelolaan sampah dengan magot dapat membantu mengurangi
volume sampah yang biasanya langsung dibuang ke luar rumah.
Selain
mengenalkan teori, tim mahasiswa juga memberikan penjelasan praktis
mengenai cara perawatan magot BSF. Peserta diajarkan bahwa media tempat
magot harus dijaga agar tidak terlalu basah, tidak terlalu kering, serta
memiliki sirkulasi udara yang cukup. Sampah yang diberikan juga perlu
dipilih, terutama sampah organik yang mudah terurai. Peserta diingatkan
agar tidak sembarangan memasukkan bahan yang terlalu berminyak, terlalu
asin, atau bercampur bahan kimia karena dapat mengganggu pertumbuhan
magot.
Para peserta juga mendapat penjelasan mengenai cara
menetaskan telur BSF, menyiapkan wadah pemeliharaan, memilih media
pakan, mengatur kelembapan, hingga mengetahui waktu panen. Dengan
pendekatan praktik langsung, jamaah tidak hanya mendengar penjelasan,
tetapi juga dapat melihat bagaimana pengelolaan magot dilakukan secara
sederhana dan memungkinkan diterapkan di rumah.
Ketua Majelis
Taklim Baitul Mu’min, Ibu Leni Tresnawati, menyambut baik kegiatan
tersebut. Ia menilai pelatihan ini sangat relevan dengan kebutuhan
ibu-ibu rumah tangga, karena sebagian besar sampah rumah tangga berasal
dari aktivitas dapur.
“Ibu-ibu jamaah sangat terbantu dengan
adanya praktik langsung ini. Ternyata mengolah sampah dengan magot tidak
sesulit yang dibayangkan dan tidak menimbulkan bau jika caranya benar.
Ini adalah langkah awal yang sangat baik bagi ibu-ibu rumah tangga untuk
berkontribusi menjaga kebersihan lingkungan dari dapur sendiri,” ujar
Ibu Leni.
Menurutnya, sebagian peserta pada awalnya merasa ragu
karena magot sering dianggap menjijikkan. Namun setelah mendapatkan
penjelasan dan melihat manfaatnya secara langsung, peserta mulai
memahami bahwa magot BSF memiliki fungsi penting dalam menjaga
kebersihan lingkungan. Perubahan cara pandang ini menjadi salah satu
capaian penting dari kegiatan edukasi tersebut.
Kegiatan
pelatihan pengolahan sampah ini turut diapresiasi oleh Heru Heryanto,
Ketua RW 15. Ia melihat program tersebut sejalan dengan program RW 15
yaitu rencana membuat rumah pengolahan sampah melengkapi sarana
lingkungan yang sudah ada saat ini yaitu tempat olah raga warga (BSC)
dan kolam ikan.
Melalui kolaborasi kegiatan ini, DKM Masjid
Baitul Mu’min berharap jamaah dapat mulai menerapkan kebiasaan memilah
sampah dari rumah. Sampah organik dapat dipisahkan dari sampah plastik,
kertas, dan jenis sampah lain. Dengan pemilahan yang benar, sampah dapur
dapat dimanfaatkan sebagai pakan magot, sementara sampah non-organik
dapat dikelola melalui cara lain.
Kegiatan edukasi pengolahan
sampah melalui magot BSF ini juga menjadi bentuk sinergi antara dunia
akademik dan masyarakat. Mahasiswa tidak hanya hadir untuk menyampaikan
ilmu, tetapi juga mendampingi jamaah agar dapat memahami teknologi
sederhana yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.
DKM Masjid
Baitul Mu’min menilai kolaborasi seperti ini perlu terus dikembangkan.
Masjid dapat menjadi pusat gerakan lingkungan yang menghubungkan nilai
keagamaan, ilmu pengetahuan, dan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian,
kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada slogan, tetapi
diwujudkan dalam praktik nyata yang dapat dilakukan oleh setiap
keluarga.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi
gerakan pengelolaan sampah mandiri di lingkungan sekitar Masjid Baitul
Mu’min. Dari dapur rumah tangga, jamaah diajak membangun kesadaran bahwa
menjaga lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab bersama, sekaligus
bagian dari ikhtiar memakmurkan masjid dan menyejahterakan jamaah.
Selesai
acara, beberapa jamaah memberikan komitmennya untuk mulai mempraktekkan
pengolahan sampah organik rumah tangga dengan membeli perlengkapan
maggot kits dan mulai membentuk kelompok Jamaah sahabat magot dengan
membuat grup whatsapp khusus. Di grup ini jamaah yang sudah memiliki
magot BSF akan melaporkan secara rutin perkembangan pengolahan sampahnya
dengan magot. Diharapkan dalam jangka panjang akan semakin banyak
jamaah masjid yang mengikuti langkah serupa.
Mahasiswa ITB juga
diharapkan bisa terus melakukan pendampingan dengan memantau,
memonitoring dan mengevalusi perkembangan praktek pengolahan sampah
level rumah tangga di Masjid Baitul Mu'min tersebut, selain juga
memperkenalkan program menjaga lingkungan lainnya. DKM Baitul Mu'min
berharap bisa menjadi Masjid binaan mahasiswa ITB dalam menjaga
lingkungan alam.