Membangun Budaya Membaca Mahasiswa Gen Z

 

Oleh: Uwes Fatoni

Mahaiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam yang merupakan bagian dari Generasi Z hidup dalam dunia yang dipenuhi informasi. Melalui telepon pintar, mereka dapat mengakses jutaan artikel, buku, dan sumber pengetahuan. Namun, derasnya informasi menghadirkan tantangan baru: bagaimana membangun kebiasaan membaca secara mendalam di tengah dominasi media sosial dan video pendek?

Budayawan Taufiq Ismail pernah menyebut persoalan literasi Indonesia sebagai fenomena “Generasi Nol Buku”, yakni generasi yang lemah dalam kebiasaan membaca dan menulis. Kritik tersebut disampaikan dalam konteks pendidikan pada masanya dan masih relevan untuk direnungkan, meskipun tidak dapat langsung digunakan untuk menggambarkan seluruh Generasi Z. Persoalan utamanya adalah kemampuan mengubah informasi menjadi pemahaman, pengetahuan, dan pemikiran yang kritis.

Tradisi Islam memberikan kedudukan penting pada aktivitas membaca. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW diawali dengan perintah “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-'Alaq [96]: 1).

Ulama dan sastrawan klasik Al-Jahiz dalam kitab Al-Mahasin wa al-Adhdad menyatakan:

الْكِتَابُ نِعْمَ الذُّخْرُ وَالْعُقْدَةُ، وَالْجَلِيسُ وَالْعُمْدَةُ

“Buku adalah sebaik-baik simpanan dan pegangan, teman duduk dan sandaran.”

Pemikiran tersebut menegaskan peranan buku sebagai sarana pelestarian ilmu dan penyebaran pengetahuan antargenerasi.

Di tengah perkembangan kecerdasan buatan dan maraknya disinformasi, membaca menjadi kebutuhan mendesak agar generasi muda mampu membedakan fakta, opini, dan manipulasi informasi.

Filsuf Inggris Francis Bacon dalam esainya Of Studies menulis:

“Reading maketh a full man; conference a ready man; and writing an exact man.”

(Membaca memperkaya pengetahuan manusia, berdiskusi melatih kesiapan berpikir, dan menulis mengasah ketepatan pemikiran.)

Senada dengan itu, Mortimer J. Adler dan Charles Van Doren melalui buku How to Read a Book (1972) menjelaskan bahwa membaca secara aktif menuntut pembaca memahami, menafsirkan, serta mengevaluasi gagasan penulis. Membaca buku sejarah memperluas perspektif, sastra mengembangkan empati, sains meningkatkan pemahaman, sedangkan filsafat dan logika melatih kemampuan bernalar. Dengan demikian, membaca membantu membangun kemandirian intelektual yang diperlukan untuk menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Budaya membaca tidak terbentuk melalui imbauan semata. Diperlukan kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Syair yang masyhur dinisbatkan kepada Imam Syafi'i menyatakan:

الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ

“Ilmu adalah buruan, sedangkan tulisan adalah pengikatnya.”

Pesan tersebut mengingatkan pentingnya mencatat pengetahuan agar tidak mudah hilang.

Mahasiswa dapat memulai kebiasaan membaca selama 15–20 menit setiap hari, memilih bacaan sesuai minat, memanfaatkan perpustakaan digital, serta membentuk komunitas diskusi. Kegiatan membaca sebaiknya diikuti dengan merangkum, mempertanyakan, dan menuliskan kembali gagasan yang diperoleh.

Pramoedya Ananta Toer dalam novel Rumah Kaca mengingatkan pentingnya menulis agar pemikiran seseorang tetap hidup dalam masyarakat. Lingkungan keluarga, sekolah, kampus, dan komunitas juga perlu memberikan keteladanan. Kebiasaan membaca akan lebih mudah berkembang ketika buku hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Minat membaca dapat dikembangkan melalui pilihan buku yang beragam. Untuk mahasiswa KPI buku ringan tentang perjalanan wartawan bisa menjadi pilihan seperti 

  1. Ayahku Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatra (HAMKA (H. Abdul Malik K. A.)
  2.  Kenang-Kenangan Hidup (HAMKA) 
  3. Di Sini Cerita Kami Titipkan Kesaksian Jurnalis Pikiran Rakyat dari Tengah Disrupsi, 
  4. Menembus Waktu Kisah Jurnalis ANTARA dari Masa ke Masa (Dr. Indiwan Seto Wahyu Wibowo, John Mayaut etc), 
  5. Mati Karena Berita Kisah Tewasnya Sembilan Jurnalis Indonesia (Abdul Manan (editor). 
  6. Wajah Syariat Islam di Media (Ansari Hasyim, dkk.), Potret Intervensi di Bilik Redaksi (AJI Semarang), Jejak Jurnalis Perempuan Pemetaan Kondisi Kerja Jurnalis Perempuan di Indonesia (Luviana), 
  7. Menggedor Pintu, Mendobrak Sekat Informasi Pengalaman Jurnalis Memohon Informasi Publik (Adib Muttaqin Asfar, Agus Wahyuni etc.), 
  8. Menembus Waktu Kisah Jurnalis ANTARA dari Masa ke Masa (Dr. Indiwan Seto Wahyu Wibowo, John Mayaut etc.).
  9.  Seandainya Saya Wartawan Tempo Proses Kerja Redaksi TEMPO Menulis dan Menyusun Berita (Goenawan Mohamad), 
  10. Cerbung - Siapa Membunuh Putri (Hasan Aspahani)

Surat kabar dan majalah juga dapat menjadi media pembelajaran penting melalui berita, feature, esai, dan opini. Membandingkan pemberitaan dari beberapa media akan membantu pembaca memahami suatu persoalan dari berbagai perspektif.

Dengan demikian, membangun budaya membaca pada Generasi Z merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia dan kemajuan bangsa.

Literasi perlu dikembangkan melalui kebiasaan membaca, berpikir kritis, berdiskusi, dan menulis. Kemajuan teknologi seharusnya memperluas kesempatan memperoleh pengetahuan sekaligus mendorong pendalaman gagasan.

Mahasiswa KPI sebagai calon da'i Kitabah (jurnalis muslim) perlu banyak membaca referensi yang bisa memperkuat pengetahuan dan keahliannya.  Yuk, biasakan untuk membaca. Manfaatkan waktu di saat istirahat, Kita bisa membaca buku ringan. Untuk tugas kuliah, bisa membaca secara dicicil. Tidak harus sekaligus, cukup sebentar tapi sering. Jangan lupa merangkum dan mendiskusikan hasil bacaan. Di Bawah saya kirimkan link bahan bacaan untuk membantu perkuliahan Jurnalisme Dakwah dan Perkuliahan Teknik Penulisan, Berita, Artikel dan Feature.



Referensi

  1. Al-Jahiz, Al-Mahasin wa al-Adhdad, https://archive.org/details/in.ernet.dli.2015.361405 

  2. Syair Al-'Ilmu Shaydun wa al-Kitabatu Qayduhu, masyhur dinisbatkan kepada Imam Syafi'i. https://www.ahmadzain.com/read/karya-tulis/598/tanggatangga-kesuksesan-belajar-11-menulis-ilmu/

  3. Francis Bacon, Of Studies, dalam Essays. https://en-wikisource-org.translate.goog/wiki/The_Essays_of_Francis_Bacon/L_Of_Studies?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc

  4. Mortimer J. Adler dan Charles Van Doren, How to Read a Book, 1972. https://archive.org/details/dli.ernet.238406/page/8/mode/2up

  5. Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca. https://ia800107.us.archive.org/3/items/rumahkaca/Rumah%20Kaca.pdf

  6. Taufiq Ismail, pernyataan tentang “Generasi Nol Buku”. https://smartcity.temanggungkab.go.id/frontend/d_informasi/192 

    Link Belajar, Buku, Koran dan Majalah  

 

© all rights reserved
Modified by kanguwes